BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kurikulum merupakan rancangan
pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi peserta
didik di sekolah. Sejatinya kurikulum tidak hanya berisi petunjuk petunjuk
teknis materi pelajaran. Tetapi, kurikulum merupakan program terencana dan
menyeluruh yang menggambarkan kualitas pendidikan di sekolah. Kurikulum
berfungsi sebagai alat untuk mewujudkan tujuan pendidikan dan Kurikulum juga
digunakan sebagai pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang dilakukan di
sekolah.
Kurikulum memegang peranan penting
dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses
pendidikan yang pada akhirnya menentukan kualifikasi lulusan suatu lembaga
pendidikan. Seiring dengan perkembangan jaman dan tuntutan dari masyarakat,
maka dunia pendidikan harus melakukan inovasi dalam pendidikan tersebut
dirancang dan diimplementasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan jaman. Berdasarkan
alur pemikiran ini, maka sangat logis jika pengembangan kurikulum berlandaskan
pada kebutuhan masyarakat.
Landasan pengembangan kurikulum dapat
diartikan sebagai suatu gagasan, suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi
sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Dalam pengembangan
kurikulum, salah satu landasan yang dijadikan pegangan atau acuan adalah
landasan sosiologis. Landasan sosiologis pengembangan kurikulum adalah
asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam
pengembangan kurikulum. Untuk dapat lebih mengetahui terkait landasan
sosiologis pada pengembangan kurikulum maka akan dijabarkan pada pembahasan
sesuai rumusan masalah yang disusun.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian landasan sosiologis?
2.
Bagaimana sosiologis sebagai landasan pengembangan kurikulum?
3.
Bagaimana landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum?
C. Tujuan
Penyusunan
makalah ini bertujuan penyusun agar dapat:
1. Memahami pengertian landasan sosiologis.
2. Mendeskripsikan sosiologis sebagai landasan pengembangan kurikulum.
3. Menguraikan landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Landasan Sosiologis
Secara umum,
pengertian sosiologi merupakan studi tentang masyarakat dan relasinya dengan
lingkungannya, atau ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kehidupan sosial
masyarakat. Sosiologi adalah studi
tentang masyarakat. Beberapa uraian yang lebih detail mengatakan bahwa
sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi sosial
masyarakat dalam kaitannya dengan struktur sosial. Deskripsi yang diungkapkan
dalam definisi ini menekankan aspek interaksi sosial dan struktur sosial
sebagai dimensi penting sosiologi.
Sosiologi
adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar
individu, antar golongan, antar lembaga sosial atau masyarakat. Di dalam
kehidupan sehari-hari anak selalu bergaul dengan lingkungan atau dunia sekitar.
Jadi sosiologi mempelajari bagaimana
manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana
susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan
yang lain.
Secara
etimologi, landasan sosiologis pengembangan kurikulum tersusun dari empat kata,
yaitu “Landasan” yang mempunyai arti alas, bantalan, dasar, dan
tumpuan.“Sosiologis” mempunyai arti yang bersifat sosial kemasyarakatan
dan yang bersifat pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat. Jadi
dapat kita tarik definisi landasan sosiologis secara etimologi yaitu suatu
landasan atau pijakkan yang mengacu pada aspek kemasyarakatan dalam menyusun
sebuah kurikulum.
Pendidikan
bukan hanya untuk pendidikan, tetapi memberikan bekal pengetahuan, keterampilan
serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut
di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik
formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi
kehidupan dalam masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala
karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi
pendidikan.
2. Sosiologis Sebagai Landasan Pengembangan
Kurikulum
Sosiologi mempunyai empat peranan yang sangat penting dalam
pengembangan kurikulum. Empat peranan sosiologi tersebut adalah berperan dalam
proses penyesuaian nilai-nilai dalam masyarakat, berperan dalam penyesuaian
dengan kebutuhan masyarakat, berperan dalam penyediaan proses sosial, dan
berperan dalam memahami keunikan individu, masyarakat dan daerah. Jadi hubungan
sosiologi dengan kurikulum yaitu ada peran sosiologi terhadap kurikulum itu
sendiri, dengan tujuan agar siswa atau masyarakat dapat bersosialisasi lebih luas
untuk mendapatkan pengaruh tekanan masyarakat terhadap pendidikan dan tidak
bertentangan dengan nilai-nilai yang beraku dalam masyarakat.
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai
suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita
maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk
terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan
semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai
untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya
menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita
mengharapkan melalui pendidikan dapat lebih mengerti dan mampu membangun
kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan
harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan
perkembangan yang ada di masyarakat.
Setiap
lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri
yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah
satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang
mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai
tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan
lainnya.
Sejalan
dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga
turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan
perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di
sekitar masyarakat.
Jika dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah proses mempersiapkan
individu agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan, pendidikan adalah
proses sosialisasi, dan berdasarkan pandangan antrofologi, pendidikan adalah
“enkulturasi” atau pembudayaan. “Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan
muncul manusia-manusia yang lain dan asing terhadap masyarakatnya, tetapi
manusia yang lebih bermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh
karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan
kondisi, karakteristik kekayaan, dan perkembangan masyarakat tersebut” (Nana
Syaodih Sukmadinata, 1997:58). Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi
warga masyarakat yang diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting,
karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu
bekerja sama, berinteraksi, menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat
dan mampu meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai mahluk yang berbudaya.
Masyarakat adalah suatu kelompok individu yang diorganisasikan mereka
sendiri ke dalam kelompok-kelompok berbeda, atau suatu kelompok individu yang
terorganisir yang berpikir tentang dirinya sebagai suatu yang berbeda dengan
kelompok atau masyarakat lainnya. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan
sendiri-sendiri. Dengan demikian, yang membedakan masyarakat satu dengan
masyarakat yang lainnya adalah kebudayaan. Hal ini mempunyai implikasi bahwa
apa yang menjadi keyakinan pemikiran seseorang, dan reaksi seseorang terhadap
lingkungannya sangat tergantung kepada kebudayaan dimana ia hidup.
Menurut Daud Yusuf (1982 : 76 ), terdapat tiga sumber nilai yang ada
dalam masyarakat untuk dikembangkan melalui proses pendidikan, yaitu: logika,
estetika, dan etika. Logika adalah aspek pengetahuan dan penalaran, estetika
berkaitan dengan aspek emosi atau perasaan, dan etika berkaitan dengan aspek
nilai. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah nilai-nilai yang bersumber pada logika
(pikiran). Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
pada hakikatnya adalah hasil kebudayaan manusia, maka kehidupan manusia semakin
luas, semakin meningkat sehingga tuntutan hidup pun semakin tinggi.
Pendidikan harus mengantisipasi tuntutan hidup ini sehingga dapat
mempersiapkan anak didik untuk hidup wajar sesuai dengan kondisi sosial budaya
masyarakat. Dalam konteks inilah kurikulum sebagai program pendidikan harus
dapat menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat. Untuk dapat menjawab tuntutan
tersebut bukan hanya pemenuhan dari segi isi kurikulumnya saja, melainkan juga
dari segi pendekatan dan strategi pelaksanaannya. Oleh karena itu guru sebagai
pembina dan pelaksana kurikulum dituntut lebih peka mengantisipasi perkembangan
masyarakat, agar apa yang diberikan kepada siswa relevan dan berguna bagi
kehidupan siswa di masyarakat.
3. Landasan Sosiologis dalam Pengembangan
Kurikulum
Landasan
pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, landasan merupakan
pijakan/tumpuan yang menjadi acuan penting dalam pengembangan kurikulum. Jika
pijakan itu kuat maka kurikulum akan menjadi pedoman yang kokoh sehingga tidak
akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh buruk apapun. Maka kurikulum akan
menghasilkan pendidikan yang sesuai harapan dan tujuan yang diharapkan. Maka Landasan
sosiologis dalam pengembangan kurikulum menjadi suatu landasan atau pijakan
yang mengacu pada aspek kemasyarakatan dalam menyusun sebuah kurikulum. Para
pengembang kurikulum harus memperhatikan setiap tuntutan dan tekanan masyarakat
yang berbeda itu. Oleh sebab itu, menyerap berbagai informasi yang dibutuhkan
masyarakat merupakan salah satu langkah penting dalam proses penyusunan suatu
kurikulum. Dalam konteks inilah pengembang kurikulum perlu menjalankan peran
evaluative dan peran kritisnya dalam menentukan muatan kurikulum.
Sekolah
adalah institusi sosial yang didirikan dan ditujukan untuk memenuhi kepentingan
dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, wajar jika dalam penyusunan dan
pelaksanaannya kurikulum sekolah banyak berkembang dan selalu berubah didalam
masyarakat. Pengaruh tersebut berdampak pada komponen-komponen kurikulum
seperti tujuan pendidikan, siswa, isi kurikulum, maupun situasi sekolah tempat
kurikulum dilaksanakan.
Dalam
merumuskan tujuan kurikulum harus memahami tiga sumber kurikulum yaitu siswa
(student), masyarakat (society), dan konten (content). Sumber siswa lebih
menekankan pada kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan siswa pada tingkat
pendidikan tertentu yang sesuai dengan perkembangan jiwa atau usianya. Sumber
masyarakat lebih melihat kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai
yang ada dalam masyarakat, sedangkan sumber konten adalah berhubungan dengan
konten kurikulum yang akan dikembangkan pada tingkat pendidikan yang sesuai.
Dengan kata lain landasan sosiologi digunakan dalam pengembangan kurikulum
dalam merumuskan tujuan pembelajaran dengan memperhatikan sumber masyarakat
(society source) agar kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di
masyarakat.
Dengan
demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan,
merespon dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu
masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global. Ada beberapa
faktor yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan kurikulum dalam masyarakat
(Nasution. 2004 : 148) , menyatakan :
Ø Kebutuhan masyarakat
Kebutuhan
masyarakat tak pernah tak terbatas dan beraneka ragam. Oleh karena itu lembaga
pendidikan berusaha menyiapkan tenaga-tenaga terdidik yang terampil yang dapat
dijadikan sebagai penggali kebutuhan masyarakat.
Ø Perubahan dan perkembangan masyarakat
Masyarakat
adalah suatu lembaga yang hidup, selalu berkembang dan berubah. Perubahan dan
perkembangan nilai yang ada dalam masyarakat sering menimbulkan konflik antar
generasi. Dengan diadakannya pendidikan diharapkan konflik yang terjadi antar
generasi dapat teratasi.
Ø Tri pusat pendidikan
Yang
dimaksud dengan tri pusat pendidikan adalah bahwa pusat pendidikan dapat
bertempat di rumah, sekolah , dan di masyarakat. Selain itu media massa,
lembaga pendidikan agama, serta lingkungan fisik juga dapat berperan sebagai
pusat pendidikan.
a. Masyarakat sebagai Landasan Sosiologis
Masyarakat mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya,
saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, serta
pada umumnya bertemt tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka
mempunyai hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dapat
merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun sempit, seperti
masyarakat bangsa ataupun kesatuan kelompok kekerabatan di suatu desa, dalam
suatu marga. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak apabila dibandingkan
dengan masyarakat dalam arti sempit. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki
ciri utama antara lain:
1)
Ada interaksi antara warganya.
2)
Pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma, hukum,
dan aturan-aturan yang khas.
3)
Ada rasa identitas kuat yang mengikat pada warganya. Kesatuan wilayah,
kesatuan adat istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya
merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa
korps, dan kesetiakawanan sosial dan lain-lain.
Masyarakat sebagai
salah satu lingkungan pendidikan, memiliki ciri-ciri khusus yang khas yang
tercermin dalam:
a)
Nilai-nilai sosial dan kebudayaan, hal ini sangat besar pengaruhnya
terhadap segala sikap tingkahlaku masyarakat tersebut termasuk masalah
pendidikan di lingkungan masyarakat tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari apa
yang dimaksud dengan nilai-nilai sosial dan kebudayaan itu terwujud dalam
norma-norma (ukuran-ukuran) dan dijadikan aturan yang dianggap baik atau tidak
baik oleh masyarakat yang bersangkutan. Agar nilai-nilai sosial dan kebudayaan
tersebut tidak musnah, maka masyarakat menularkan kepada generasi muda.
Penularan ini terjadi dengan apa yang disebut pendidikan.
b)
Pandangan hidup/ falsafah masyarakat, kesadaran mengenai pandangan hidup
bangsa, cita-cita nasional dan tanggungjawab nasional khususnya dalam bidang
pendidikan ada pada tiap pribadi anggota masyarakat.
c)
Pengaruh/ keadaan ilmu pengetahuan teknologi dalam masyarakat, pendidikan
harus dapat mengikuti perkembangan masyarakat dan perkembangan masyarakat
sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b. Peran dan Fungsi sekolah dalam Masyarakat
Sekolah sebagai lembaga pendidikan sosial, bisa disebut juga sebagai satu
organisasi yaitu terikat kepada tata aturan formal, berprogram dan bertarget
atau bersasaran yang jelas, serta memiliki struktur kepemimpinan dalam
penyelenggaraan yang resmi. Pada akhirnya, fungsi sekolah terikat kepada
sasaran yang dibutuhkan oleh masyarakat itu sendiri. Di sekolah diajarkan
tentang nilai-nilai dan norma-norma di masyarakat yang lebih luas. Tidak hanya
itu saja, di dalam sekolah individu dilatih untuk mempraktikkan hal-hal yang
telah ia pelajari di sekolah dan keluarga. Berikut ini akan diuraikan lebih
detail tentang peran sekolah dan fungsi sekolah.
Peran sekolah sebagai lembaga untuk mendidik, memperbaiki dan memperhalus
tingkah laku anak didik yang sudah dimiliki sebelumnya dan mempersiapkan anak
didik di dalam kehidupannya.
Fungsi sekolah selain meneruskan pembinaan yang telah dilakukan oleh
keluarga, juga mengembangkan potensi anak. Lebih detail tentang fungsi sekolah
dipaparkan sebagai berikut:
1)
Mengembangkan kecerdasan otak dan memberikan pengetahuan.
Sekolah bertugas untuk mengembangkan pribadi anak
didik secara menyeluruh. Fungsi sekolah yang lebih penting
sebenarnya adalah menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan yang
cerdas.
2)
Spesialisasi
Spesialisasi sebagai konsekuensi makin meningkatnya kemajuan masyarakat
ialah maki bertambahnya diferensiasi sosial yang melaksanakan tugas tersebut. Sekolah
sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan
pengajaran
3)
Efisiensi
Efisiensi pendidikan dilakukan dalam program yang tertentu dan sistematis,
juga jumlah anak didik dalam jumlah besar akan memberikan efisiensi bagi
pendidikan anak dan juga bagi orang tua
4)
Sosialisasi
Sekolah sebagai proses untuk membantu perkembangan individu menjadi
makhluk sosial, makhluk yang dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat.
Proses sosialisasi di dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik,
merupakan fungsi yang cukup penting karena tugas pendidikan sekolah adalah
mensosialisasikan pentingnya persatuan melalui beberapa macam mata pelajaran.
5)
Konservasi dan transmisi kultural
Fungsi sekolah adalah memelihara warisan budaya yang hidup dalam
masyarakat dengan jalan menyampaikan warisan kebudayaan (transmisi kultural)
kepada generasi muda. Sekolah sebagai transmisi pengetahuan dan keterampilan
dan transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma.
BAB
III
KESIMPULAN
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan
pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil
pendidikan. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapi memberikan bekal pengetahuan,
keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan
lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan
pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat, dan
diarahkan bagi kehidupan dalam masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan
segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus
acuan bagi pendidikan.
Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan
yang sangat penting, landasan merupakan pijakan/tumpuan yang menjadi acuan
penting dalam pengembangan kurikulum. Jika pijakan itu kuat maka kurikulum akan
menjadi pedoman yang kokoh sehingga tidak akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh
buruk apapun. Maka kurikulum akan menghasilkan pendidikan yang sesuai harapan
dan tujuan yang diharapkan. Maka Landasan sosiologis dalam pengembangan
kurikulum menjadi suatu landasan atau pijakan yang mengacu pada aspek
kemasyarakatan dalam menyusun sebuah kurikulum.
Masyarakat sebagai Landasan Sosiologis, sehingga masyarakat
sebagai salah satu lingkungan pendidikan dengan memiliki ciri-ciri khusus yang
khas yang tercermin dalam: 1) Nilai-nilai sosial dan kebudayaan, 2) Pandangan
hidup/ falsafah masyarakat, dan 3) Pengaruh/ keadaan ilmu pengetahuan teknologi
dalam masyarakat.
Peran sekolah sebagai lembaga untuk mendidik,
memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang sudah dimiliki
sebelumnya dan mempersiapkan anak didik di dalam kehidupannya. Fungsi sekolah
selain meneruskan pembinaan yang telah dilakukan oleh keluarga, juga
mengembangkan potensi anak, mengembangkan individu sebagai makhluk sosial, dan
memelihara warisan budaya dengan menyampaikan dan menanamkan kebudayaan kepada
generasi muda.
DAFTAR
PUSTAKA
Made pidarta.2014.Landasan
Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta
Zainal
Aripin, M.pd. 2011,Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya