Sabtu, 23 Juni 2012

Peran Generasi Muda dalam Pembangunan Bangsa


Sejarah menunjukan pemuda selalu menampilkan peranannya. Pada awal abad 20 muncul organisasi-organisasi modern sebagai alat perjuangan, seperti Budi Utomo, Indisehce Partij, Serikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Taman Sisiwa, dan lain-lain. Organisasi-organisasi tersebut, dalam sejarah kita lebih dikenal dengan nama pergerakan nasional.
Dalam berbagai kesempatan, generasi muda Indonesia telah menunjukan kepeloporannya yang dijiwai oleh semangat tidak kenal menyerah dan kesediaan untuk berkorban. Hal itu memberikan contoh dan keteladanan kepada kita tentang darma bakti yang patut dan seharusnya diberikan untuk membela kepentingan bangsa dan Negara. Sebagai bukti bagaimana peranan pemuda Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, di bawah ini beberapa tokoh pemuda yang besar jasanya terhadap pencapaian kemerdekaan Indonesia antara lain: Ir. Soekarno, Moch. Hatta, RA. Kartini, Ki Hajar Dewantara, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pada masa sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, peranan pemuda sangat besar dan penting artinya dalam membina persatuan dan kesatuan. Dengan memprakasai diadakannya kongres pemuda yang dikenal dengan sumpah pemuda, guna mencapai Negara Indonesia merdeka.
Pembinaan organisasi kepemudaan hendaknya lebih diintensifkan. Organisasi-organisasi kepemudaan seperti KNPI, OSIS, Organisasi Kemahasiswaan, Pramuka, Karang Taruna, dan lain-lain, agar lebih mandiri, berkualitas dan lebih memiliki semangat kebangsaan dengan didukung oleh sarana dan prasara yang memadai.
Keluarga, masyarakat dan pemerintah memegang peranan penting dalam upaya menghasilkan generasi muda yang bertanggung jawab. Pembinaan dan pengembangan pemuda ditujukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, kesetiakawanan social, serta kepeloporan pemuda dalam membangun masa depan bangsa dan Negara.
Penyelenggaraan pembinaan dan pengembangan pemuda menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dalam mewujudkan tanggung jawabnya terhadap pendidikan generasi muda, melalui upaya peningkatan pemantapan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta pengalamannya menanamkan dan menumbuhkembangkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memperkukuh kepribadian, meningkatkan kecerdasan dan berkreatifitas, memperkuat semangat belajar, dan etos kerja, serta memiliki keahlian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani untuk mewujudkan pemuda Indonesia yang berkualitas.

Sekilas mengenal Organisasi Pendidikan Kepanduan Gerakan Pramuka

Sejak sebelum perang dunia kedua, di Indonesia sudah ada gerakan anak-anak dan pemuda yang disebut Pandu. Menurut sejarahnya pandu lahir berkat gagasan Lord Baden Powell, perwira tentara kerajaan Inggris. Pandu akhirnya berkembang di Inggris dan Negara jajahan-jajahannya, kemudian merambah ke Negara lainnya. Indonesia, yang ketika itu menjadi Negara jajahan Belanda tak luput dari pengaruh itu.
Seiring dengan pandangan politik masyarakat kita waktu itu, maka nama pandu pun beraneka ragam. Ada yang bernama KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), ada Pandu Rakyat Indonesia, Hizbul Wathan, dan masih banyak nama-nama yang lainnya.
Pendek kata, nama dan benderanya pun bermacam-macam. Namun pada hakekatnya mereka bertujuan sama. Mendidik anak-anak dan remaja berwatak baik, berbudi pekerti luhur, memiliki sopan santun, serta terampil, bertanggung jawab, dan berguna bagi keluarga, lingkungan, serta masyarakat.
Proklamasi 17 Agustus 1945, telah membebaskan negara kita dari belenggu penjajah. Negara kita benar-benar memiliki kedaulatan dan terbebas dari jajahan bangsa asing. Kita punya hak mengatur pemerintahan sendiri yang sesuai dengan kepribadian dan cita-cita bangsa kita. Gerakan kepanduan yang lahir disaat Belanda mencokol akhirnya ditata dan dibenahi agar sesuai dengan Negara kita. Coraknya yang begitu beragam dipersatukan menjadi satu wadah dan satu nama. Pernah pada tanggal 28 Desember 1945, berbagai organisasi kepanduan atas kesadaran sendiri meleburkan diri dalam organisasi. Saying sekali organisasi kesatuan ini hanya berlangsung 5 tahun.alam liberalism memecahkan kembali kesatuan tersebut.
Akan tetapi, pada tanggal 20 Mei 1961. Presiden Soekarno mempersatukan kembali berbagai aliran menjadi satu. Jadi sejak itu di Indonesia hanya memiliki satu gerakan kepanduan. Yang dikenal sebagai Praja Muda Karana, dan kini lebih akrab dengan nama Gerakan Pramuka.
Tujuan utama gerakan pramuka pada hakekatnya sama dengan tujuan gerakan kepanduan yang merupakan karakter building. Membentuk watak anak dan remaja Indonesia agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap putra-putri Indonesia, memiliki rasa cinta tanah air, dan menjadi sumber daya manusia harapan bangsa. Sebagai organisasi pendidikan kepanduan satu-satunya di Indonesia. Pemerintah telah memberikan kepercayan dan kehormatan melalui Keppres No. 238 tahun 1961 Juncto Keppres No. 45 tahun 1974, untuk membina generasi muda dari usia 7 hingga 21 tahun dengan gaya yang khas.
Penyelenggaraan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia sepenuhnya dipercayakan kepada Gerakan Pramuka. Organisasi ini merupakan satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan, yang sekarang lebih dikenal kepramukaan.
Pembinaan dan pengembangan generasi muda merupakan masalah yang begitu penting  dan mendesak. Mengapa? Pertumbuhan dan perkembangan generasi muda sangat menentukan perkembangan dan kemajuan bangsa serta Negara Indonesia dimasa mendatang. Guna mencapai tujuan tersebut, sangat dibutuhkan suatu perjuangan. Tak pelak lagi, perjuangan ini adalah kewajiban generasi muda sebagai pelopor dan penerus perjuangan bangsa yang terlibat langsung dalam era pembangunan bangsa.
Upaya pembinaan generasi muda melalui Gerakan Pramuka, seperti yang ada dalam imajinasi kita sebenarnya sudah ada dan wajib digunakan. Yaitu gambaran ideal seperti yang tersurat dalam bait lagu kebangsaan Indonesia Raya, “Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku”. Selanjutnya gambaran operasional, “pramuka sebagai pelopor pembentukan manusia-manusia pancasila”. Ungkapan ini pernah diutarakan Bapak Presiden dalam pidatonya pada tanggal 12 April 1976 di Jakarta. Ketika membuka Musyawarah Kerja Kwartir Nasional dan Kwartir Daerah se-Indonesia. Pidatonya terkenal dengan nama Eka Prasetya Pancakarsa.
Gambaran ideal tentang ini telah dipertegas lagi sebagai pelopor pembentukan insan pancasila. Ini berarti, pramuka akan menjadi insan pancasila karena sikap. Dengan kata lain, unsur keteladanan menjadi bagian yang menonjol. Inilah wadah yang tepat dan layak, untuk membina kader-kader bangsa.

Minggu, 04 Maret 2012

Evaluasi


Ralph W. Tyler, mengemukakan bahwa proses evaluasi merupakan proses yang sangat esensial, guna memenuhi apakah tujuan (objektifitas) secara nyata telah terealisasikan. Sedangkan, Hilda Taba, berpendapat bahwa evaluasi adalah tingkatan dimana siswa mencapai tujuan.
Evaluasi merupakan umpan balik mengenai keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Dengan kata lain, evaluasi dapat diartikan sebagai tindakan menelaah hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Disamping itu, evaluasi juga berguna untuk mempertinggi hasil pelajaran, karena erat kaitanya dengan proses belajar mengajar.
Evaluasi bertujuan untuk memperoleh umpan balik mengenai keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Jika, hasil evaluasi menunjukan bahwa siswa belum menguasai materi pelajaran, maka kita tidak dapat melanjutkan materi selanjutnya tetapi kita harus mengulang proses belajar mengajar mengenai materi yang sama. Sebaliknya, apabila hasil evaluasi menunjukan bahwa siswa telah menguasi materi pelajaran, kita dapat langsung melanjutkan materi selanjutnya.
Ada beberapa jenis penilaian yang dapat dilaksanakan, dalam kegiatan proses belajar mengajar. Dilihat dari fungsinya penilaian dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu:
1.        Evaluasi formatif, evaluasi ini dilaksanakan setelah siswa mengikuti suatu program pengajaran, misalnya satu pokok bahasan.
2.        Evaluasi sumatif, dilaksanakan pada akhir unit program, misalnya setelah beberapa pokok bahasan.
3.        Evaluasi penempatan, dilakukan untuk mengetahui kemampuan prasyarat yang dimiliki siswa sebelum memulai atau melanjutkan pada program pengajaran tertentu.
4.        Evaluasi diagnostik, dilakukan terhadap hasil belajar siswa untuk mendapatkan data mengenai kelamahan, kekurangan atau kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar.
5.        Evaluasi selektif, penilaian ini bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya tes atau ujian saringan masuk sekolah.
Dilihat dari segi alat, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes. Tes bisa terdiri atas tes lisan, tes tulisan, dan tes perbuatan. Tes juga terbagi dua jenis, yaitu:
1.        Tes Uraian atau Esai, terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian berstruktur.
2.        Tes Objektif, terdiri dari beberapa bentuk yaitu: bentuk pilihan benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, dan bentuk isian pendek atau melengkapi.
Dilihat dari tekhnik penilaian, penilaian dapat dilakukan dengan tertulis (paper and pen), penugasan (project), hasil kerja (product), unjuk kerja (performance), portofolio, sikap, dan penilaian diri.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar dalam bentuk: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

Media Pembelajaran


Media pembelajaran tidak kalah pentingnya dalam keberhasilan pembelajaran. media merupakan alat bantu pembelajaran, yang dapat mempermudah pembelajaran. Dengan menggunakan alat/media akan mempercepat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Dalam proses pembelajaran, media dapat diartikan sebagai berikut:
1.        Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm, 1977).
2.        Sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya (Briggs, 1977).
3.        Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).
Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses mental pada diri siswa dalam proses pembelajaran. Dimana telah terjadinya komunikasi antara siswa dengan media, atau secara tidak langsung antara siswa dengan penyalur pesan (guru). Dengan kata lain, proses belajar dengan media akan terjadi apabila ada komunikasi antara penerima pesan (siswa) dengan  penyalur pesan (guru). Media tersebut berhasil menyalurkan bahan ajar, apabila telah terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa.
Media pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam:
1.        Media Visual
Media visual adalah media yang dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Media visual terdiri atas media visual yang dapat diproyeksikan, dan media visual yang tidak dapat diproyeksikan.
2.        Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar saja). Seperti: program kaset, dan radio.
3.        Media Audio Visual
Media audio visual merupakan kombinasi media audio dan media visual, atau bisa disebut media pandang dengar. Seperti: video, televise, dan slide show.
Guru dapat lebih mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran melalui penggunaan media secara optimal. Sebab media memiliki fungsi, nilai, dan peranan yang sangat menguntungkan, terutama mengurangi terjadinya salah penafsiran terhadap bahan ajar yang disampaikan. Namun, setiap media memiliki karakteristik (kelebihan dan kekurangan). Oleh karena itu, tidak ada media yang dapat digunakan untuk semua situasi atau tujuan pembelajaran. Jadi, kita harus dapat menentukan/memilih media yang tepat dengan dikaitkan dengan tujuan pembelajaran, sifat-sifat bahan media, strategi pembelajaran, dan situasi evaluasinya.

Model Pembelajaran

Model pembelajaran digunakan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam  proses pembelajaran. Dimana model pembelajaran merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang didasarkan pada pengalaman, yang memungkinkan siswa belajar bagaimana caranya belajar (learning how to learn). Sehingga pembelajaran berpusat pada siswa dan keaktifan siswa, dan guru berperan sebagai fasilitator/mediator dan motivator siswa dalam proses belajar.
Menurut Olivia (1992:413), “models of teaching are strategis based on theories (and often the research) of educators, psychologist, philosophers, and others who question how individual learn”. Hal ini berarti setiap model mengajar atau pembelajaran harus mengandung suatu rasional yang didasarkan pada suatu teori, berisi serangkaian langkah yang strategi yang dilakukan guru maupun siswa, didukung dengan sistem  penunjang atau fasilitas pembelajaran, dan metode untuk mengevaluasi kemajuan belajar siswa.
Sedangkan Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran.
Model pembelajaran yang digunakan dalam pengalaman belajar siswa, diharapkan akan terjadinya aktivitas belajar siswa yang tinggi pada keterampilan proses. Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi dalam diri siswa (Depdikbud 1990:9).
Banyak model pembelajaran yang dikemukakan para ahli, seperti: model examples non-examples, numbered heads together, jigsaw, make a match, role playing, reading guide, dan sebagainya. Salah satu model Reading Guide merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk materi yang membutuhkan waktu banyak yang tidak mungkin di jelaskan semuanya dalam kelas. Untuk mengefektifkan waktu, maka siswa di beri tugas membaca dan menjawab pertanyaan atau kisi- kisi untuk dikerjakan siswa, karena dalam penggunaan strategi tersebut siswa juga ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran.
            Langkah-langkah model reading guide sebagai berikut:
  1. Tentukan bacaan yang akan dipelajari
  2. Buat pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab atau kisi-kisi untuk mengerjakan permasalahan berdasarkan bacaan yang telah ditentukan.
  3. Bagikan bahan bacaan dengan pertanyaan atau kisi-kisi yang telah disiapkan kepada para peserta didik.
  4. Tugas para peserta didik, mempelajari bacaan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memecahkan permasalahan berdasarkan kisi-kisi yang ada. Kegiatan menjawab pertanyaan atau kisi-kisi bisa secara individual, atau kelompok. Batasi aktivitas para peserta didik, sehingga tidak memakan waktu yang berlebihan.
  5. Bahaslah bersama contoh jawaban atau pekerjaan dari peserta didik. Berikan ulasan dan kesimpulan.

Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran mempunyai nilai strategis, karena metode merupakan alat atau fasilitas untuk menghantarkan bahan pelajaran mencapai tujuan. Oleh karena itu, bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan metode pembelajaran justru akan mempersulit guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. 
Hasil belajar siswa atau prestasi belajar siswa akan diperoleh setelah siswa menempuh proses atau pengalaman pembelajarannya. Pengalaman belajar merupakan suatu proses kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh alternatif metode yang digunakan guru.
Wina Senjaya (2008), mengemukakan bahwa metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata, dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, symposium, dan sebagainya.
Dyah Rahayu Widiarni, dalam makalah Perencanaan Sistem Pengajaran mengemukakan 31 metode pembelajaran sebagai berikut: kerja kelompok, penemuan (discovery), unit teaching, micro teaching, inquiry, penampilan, diskusi, ceramah, demonstrasi, tanya jawab, studi mandiri, pembelajaran terprogram, tugas dan resitasi, latihan, latihan bersama teman, simulasi, pemecahan masalah, studi kasus, insiden, praktikum, proyek, bermain berperan, seminar, symposium, sosiodrama, tutorial, deduktif, induktif, karyawisata, eksperimen, dan bercerita.
Penggunaan metode pembelajaran, ditinjau dari segi prosesnya memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
  • 1.       Sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan pembelajaran atau membentuk kompetensi siswa.
  • 2.       Sebagai gambaran aktivitas yang harus ditempuh oleh siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran.
  • 3.       Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan alat penilaian pembelajaran.
  • 4.       Sebagai bahan petimbangan untuk menentukan bimbingan dalam kegiatan pembelajaran.

Sedangkan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode pembelajaran, yaitu:
  • 1.        Tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa.
  • 2.        Karakteristik bahan/materi pembelajaran.
  • 3.        Waktu yang digunakan.
  • 4.        Faktor siswa.
  • 5.        Fasilitas, media, dan sumber belajar.


            Metode pembelajaran yang kita gunakan dalam kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan keperluan dan situasi yang sedang berlangsung, guru dapat menggunakan metode mengajar secara bervariasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya. Pemilihan metode pembelajaran harus mempertimbangkan pengembangan kemampuan siswa, tujuan pembelajaran, materi pelajaran, dan waktu yang tersedia.

Minggu, 26 Februari 2012

Aku Lelaki Renta

Aku lelaki renta...
yang sudah lemah.
Berdiri penuh kepayahan,
terpuruk dan tak berdaya.
Hanya awan gelap yang menemani,
dan petir-petir yang siap menyambar.

Sungguh, aku tak berdaya.
Sayap-sayap kehidupanku terasa telah patah.
Kemanakah aku harus pergi?
Keputusanku tak berarti apapun,
Kehendak-Mu mutlak terjadi.

Seandainya aku menyerah dalam hidup ini,
bukanlah karena putus asa
tapi sungguh ketidak berdayaanku.

Rabu, 15 Februari 2012

Untuk saudara-saudaraku

Kesibukan keseharian terkadang melengahkan banyak hal, baik yang kita sadari maupun tidak kita sadari. Baik kegiatan yang positif maupun kegiatan yang mungkin sangat merugikan kita. Manusia-manusia tanpa kepribadian muncul, tumbuh dan berkembang menjadi roda-roda untuk memburu farta morgana duniawi.

Ya, manusia terlena bahkan terlelap khilap dan tersesat oleh kebahagiaan fana sesaat. Manusia sudah tersesat dan terlena kebahagiaan sesaat tersebut, sehingga lupa atau bahkan melupakan Maha Pencipta "Allah SWT." dan sombong, angkuh atas kehidupannya.

Dalam masa seperti ini, patutkah kita ikut terlena? Melepaskan ketinggian derajat seorang manusia tidak cukup satu kata itu kita termasuk orang yang lepas dari keterlenaan? Cukupkah seorang berkata "Saya Beriman?". Jadikan shalat, sabar, dan beramal saleh sebagai pedoman dan penolong kita.

Saudaraku, ku untai kalimat ini bukan untuk menggurui, bukan pula wujud kesombongan atau kesempurnaan diri dengan penuh ikhlas kusampaikan catatan ini sebagai pengingat bagi kita semua.
Ya, kita insan yang terlena.

Catatan: 19 November 1999

Selasa, 14 Februari 2012

BERSAMA ALLAH

Bersama Allah dalam derita penyakitku
dan dalam engah kepayahanku
kumunajat mengharapkan kesembuhanku.
Ku seru: Ya Rabb! Engkau Tuhan kami!
Engkau pemberi kesembuhan .... Engkaulah ....
Engkaulah harapanku.
Bagiku tiada selainMu
Apabila terus berlanjut penyakitku
KepadaMu kuserahkan pundak segala petaka.

Manusia sekitarku amatlah banyak
tetapi mereka sedikit ....
dalam tanggung jawab atas beban-beban
"saudara manfaat" dan "kawan-kawan yang lapang"
dalam keborosan dan kekayaan.
Tapi mereka kosong, mereka hampa
atas ujian yang menimpanya.

Tuhan dan jiwaku ....
atau kelenyapan kekayaanku
pabila kutuju seorang kawan yang ikhlas, 
dan mencari dengan penuh keinginan,
tentang orang yang amanat,
kudapati diantara para kawan
orang-orang yang mulia ....
mereka itu dalam hakekatnya ....
itulah orang-orang yang ikhlas.

Tapi pertolongan Allah lebih kuat
untuk selama-lamanya ....
dan lebih mulia dari kawan-kawanku
dan dari musuh-musuhku.
Maka Allah atas manusia, atas wujud kita
atas kehidupan dan ....
alamnya orang yang hidup.

MAHA SUCI ALLAH
Maha kuat Tuhan kami ....
Tuhanku .... "Tuhan guna" dan "Tuhan petaka"
kubersamaNya Yang Maha Agung
dengan jiwaku ....
walau perasaanku dalam kesukaran ....
penuh kepayahan.

                                           Oleh: Ahmad Ustman Almaraghi

Senin, 13 Februari 2012

Ya Allah, maha penyayang...

Ya Allah, cinta kasih-Mu datang dan pergi,
tumbuh dan hilang dalam setiap jiwa,
tak terkirakan waktu dan nilainya.
Meski kadang mencucurkan airmata,
atau meninggalkan luka dihati.

Ya Allah, maha penyayang...
Bimbinglah hati kami tuk saling memahami,
saling merindukan, saling menyayangi,
dan saling mencintai.
Meski saat ini bukan untuknya atau bukan lagi untuknya,
dan tak bersama tuk saling memiliki.

Ya Allah, maha pengasing...
Pertahankan ikatan yang telah ada,
tuk terus saling mengabdi dan melindungi.
Bukan tuk saling meragukan,
saling mengalahkan atau memenangi,
dan bukan pula tuk saling mengkhianati.

Ya Allah, maha penyayang dan maha pengasih...
Bimbinglah hati kami tuk mencari kasih-Mu,
menyatu siang dan malam dalam kasih-Mu,
hingga kesempurnaan jiwa sebagai umat-Mu.
Barakallah..., amin.

Minggu, 12 Februari 2012

Pahamilah aku...!

Aku memang telah salah jalan
Aku tak bermoral dimata kalian
Tapi, aku bukan manusia tanpa hati
bukan pula manusia tanpa iman
Aku menyadari semua itu.

Ini, bukanlah jalan pilihanku
Aku terjerumus waktu ke arah sana
dan, tak dapat kuhindari lagi
Hidup penuh keringat kenistaan ini.

Seandainya, dapat memilih
Aku mau hidup seperti kalian
hidup tenang dan tentram
Bukan kehidupanku sekarang ini
penuh air mata dan kegelisahan jiwa

Bukanlah pilihanku,
hidup penuh kenistaan ini.

Sabtu, 11 Februari 2012

Apa pentingnya pendidikan untukku?

Pendidikan merupakan usaha atau upaya seseorang yang dilakukan secara terus menerus dengan sadar, dalam upaya untuk meningkatkan perkembangan hidupnya. Melalui pendidikan manusia mampu meningkatkan kemampuan dan kematangan sikap, perilaku, kinerja, dan keterampilannya.
Kehidupan seseorang tak dapat diramalkan atau ditentukan oleh dirinya sendiri, tapi tentunya dapat diperkirakan atau diperhitungkan dengan sebuah kata kunci "kalau". Seperti, kalau saya seperti itu nanti pasti akan seperti itu.
Saya terlahir di perkampungan pada keluarga yang sangat sederhana. Suatu pagi saya keluar rumah dan duduk di kursi depan, memperhatikan kejadian di sekitar lingkungan rumah. Ada yang baru sampai dengan pakaian berlumuran lumpur, ada orang beriringan memikul barang, ada yang mu berangkat ke sawah atau kebun, ada yang mu berangkat mencari rumput, dan kegiatan-kegiatan lain di perkampungan.
Dalam hati timbul sebuah pernyataan "kalau saya tak sekolah, maka hidup saya akan seperti mereka". Ini adalah pikiran anak yang baru lulus sekolah dasar waktu itu. Maka dengan kesimpulan itu saya berontak kepada orang tua, bahwa saya mau melanjutkan sekolah ke smp. Alhamdullah, akhirnya dengan susah payah saya bisa melanjutkan sekolah ketingkat smp.

Bersambung ...