Sabtu, 23 Juni 2012

Peran Generasi Muda dalam Pembangunan Bangsa


Sejarah menunjukan pemuda selalu menampilkan peranannya. Pada awal abad 20 muncul organisasi-organisasi modern sebagai alat perjuangan, seperti Budi Utomo, Indisehce Partij, Serikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Taman Sisiwa, dan lain-lain. Organisasi-organisasi tersebut, dalam sejarah kita lebih dikenal dengan nama pergerakan nasional.
Dalam berbagai kesempatan, generasi muda Indonesia telah menunjukan kepeloporannya yang dijiwai oleh semangat tidak kenal menyerah dan kesediaan untuk berkorban. Hal itu memberikan contoh dan keteladanan kepada kita tentang darma bakti yang patut dan seharusnya diberikan untuk membela kepentingan bangsa dan Negara. Sebagai bukti bagaimana peranan pemuda Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, di bawah ini beberapa tokoh pemuda yang besar jasanya terhadap pencapaian kemerdekaan Indonesia antara lain: Ir. Soekarno, Moch. Hatta, RA. Kartini, Ki Hajar Dewantara, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pada masa sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, peranan pemuda sangat besar dan penting artinya dalam membina persatuan dan kesatuan. Dengan memprakasai diadakannya kongres pemuda yang dikenal dengan sumpah pemuda, guna mencapai Negara Indonesia merdeka.
Pembinaan organisasi kepemudaan hendaknya lebih diintensifkan. Organisasi-organisasi kepemudaan seperti KNPI, OSIS, Organisasi Kemahasiswaan, Pramuka, Karang Taruna, dan lain-lain, agar lebih mandiri, berkualitas dan lebih memiliki semangat kebangsaan dengan didukung oleh sarana dan prasara yang memadai.
Keluarga, masyarakat dan pemerintah memegang peranan penting dalam upaya menghasilkan generasi muda yang bertanggung jawab. Pembinaan dan pengembangan pemuda ditujukan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, kesetiakawanan social, serta kepeloporan pemuda dalam membangun masa depan bangsa dan Negara.
Penyelenggaraan pembinaan dan pengembangan pemuda menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Dalam mewujudkan tanggung jawabnya terhadap pendidikan generasi muda, melalui upaya peningkatan pemantapan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta pengalamannya menanamkan dan menumbuhkembangkan kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memperkukuh kepribadian, meningkatkan kecerdasan dan berkreatifitas, memperkuat semangat belajar, dan etos kerja, serta memiliki keahlian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani untuk mewujudkan pemuda Indonesia yang berkualitas.

Sekilas mengenal Organisasi Pendidikan Kepanduan Gerakan Pramuka

Sejak sebelum perang dunia kedua, di Indonesia sudah ada gerakan anak-anak dan pemuda yang disebut Pandu. Menurut sejarahnya pandu lahir berkat gagasan Lord Baden Powell, perwira tentara kerajaan Inggris. Pandu akhirnya berkembang di Inggris dan Negara jajahan-jajahannya, kemudian merambah ke Negara lainnya. Indonesia, yang ketika itu menjadi Negara jajahan Belanda tak luput dari pengaruh itu.
Seiring dengan pandangan politik masyarakat kita waktu itu, maka nama pandu pun beraneka ragam. Ada yang bernama KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), ada Pandu Rakyat Indonesia, Hizbul Wathan, dan masih banyak nama-nama yang lainnya.
Pendek kata, nama dan benderanya pun bermacam-macam. Namun pada hakekatnya mereka bertujuan sama. Mendidik anak-anak dan remaja berwatak baik, berbudi pekerti luhur, memiliki sopan santun, serta terampil, bertanggung jawab, dan berguna bagi keluarga, lingkungan, serta masyarakat.
Proklamasi 17 Agustus 1945, telah membebaskan negara kita dari belenggu penjajah. Negara kita benar-benar memiliki kedaulatan dan terbebas dari jajahan bangsa asing. Kita punya hak mengatur pemerintahan sendiri yang sesuai dengan kepribadian dan cita-cita bangsa kita. Gerakan kepanduan yang lahir disaat Belanda mencokol akhirnya ditata dan dibenahi agar sesuai dengan Negara kita. Coraknya yang begitu beragam dipersatukan menjadi satu wadah dan satu nama. Pernah pada tanggal 28 Desember 1945, berbagai organisasi kepanduan atas kesadaran sendiri meleburkan diri dalam organisasi. Saying sekali organisasi kesatuan ini hanya berlangsung 5 tahun.alam liberalism memecahkan kembali kesatuan tersebut.
Akan tetapi, pada tanggal 20 Mei 1961. Presiden Soekarno mempersatukan kembali berbagai aliran menjadi satu. Jadi sejak itu di Indonesia hanya memiliki satu gerakan kepanduan. Yang dikenal sebagai Praja Muda Karana, dan kini lebih akrab dengan nama Gerakan Pramuka.
Tujuan utama gerakan pramuka pada hakekatnya sama dengan tujuan gerakan kepanduan yang merupakan karakter building. Membentuk watak anak dan remaja Indonesia agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap putra-putri Indonesia, memiliki rasa cinta tanah air, dan menjadi sumber daya manusia harapan bangsa. Sebagai organisasi pendidikan kepanduan satu-satunya di Indonesia. Pemerintah telah memberikan kepercayan dan kehormatan melalui Keppres No. 238 tahun 1961 Juncto Keppres No. 45 tahun 1974, untuk membina generasi muda dari usia 7 hingga 21 tahun dengan gaya yang khas.
Penyelenggaraan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia sepenuhnya dipercayakan kepada Gerakan Pramuka. Organisasi ini merupakan satu-satunya badan yang diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan kepanduan, yang sekarang lebih dikenal kepramukaan.
Pembinaan dan pengembangan generasi muda merupakan masalah yang begitu penting  dan mendesak. Mengapa? Pertumbuhan dan perkembangan generasi muda sangat menentukan perkembangan dan kemajuan bangsa serta Negara Indonesia dimasa mendatang. Guna mencapai tujuan tersebut, sangat dibutuhkan suatu perjuangan. Tak pelak lagi, perjuangan ini adalah kewajiban generasi muda sebagai pelopor dan penerus perjuangan bangsa yang terlibat langsung dalam era pembangunan bangsa.
Upaya pembinaan generasi muda melalui Gerakan Pramuka, seperti yang ada dalam imajinasi kita sebenarnya sudah ada dan wajib digunakan. Yaitu gambaran ideal seperti yang tersurat dalam bait lagu kebangsaan Indonesia Raya, “Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku”. Selanjutnya gambaran operasional, “pramuka sebagai pelopor pembentukan manusia-manusia pancasila”. Ungkapan ini pernah diutarakan Bapak Presiden dalam pidatonya pada tanggal 12 April 1976 di Jakarta. Ketika membuka Musyawarah Kerja Kwartir Nasional dan Kwartir Daerah se-Indonesia. Pidatonya terkenal dengan nama Eka Prasetya Pancakarsa.
Gambaran ideal tentang ini telah dipertegas lagi sebagai pelopor pembentukan insan pancasila. Ini berarti, pramuka akan menjadi insan pancasila karena sikap. Dengan kata lain, unsur keteladanan menjadi bagian yang menonjol. Inilah wadah yang tepat dan layak, untuk membina kader-kader bangsa.