Tampilkan postingan dengan label Kajian Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Materi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2020

Landasan Sosiologis dalam Pengembangan Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi peserta didik di sekolah. Sejatinya kurikulum tidak hanya berisi petunjuk petunjuk teknis materi pelajaran. Tetapi, kurikulum merupakan program terencana dan menyeluruh yang menggambarkan kualitas pendidikan di sekolah. Kurikulum berfungsi sebagai alat untuk mewujudkan tujuan pendidikan dan Kurikulum juga digunakan sebagai pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah.
Kurikulum memegang peranan penting dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Seiring dengan perkembangan jaman dan tuntutan dari masyarakat, maka dunia pendidikan harus melakukan inovasi dalam pendidikan tersebut dirancang dan diimplementasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan jaman. Berdasarkan alur pemikiran ini, maka sangat logis jika pengembangan kurikulum berlandaskan pada kebutuhan masyarakat.
Landasan pengembangan kurikulum dapat diartikan sebagai suatu gagasan, suatu asumsi, atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, salah satu landasan yang dijadikan pegangan atau acuan adalah landasan sosiologis. Landasan sosiologis pengembangan kurikulum adalah asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Untuk dapat lebih mengetahui terkait landasan sosiologis pada pengembangan kurikulum maka akan dijabarkan pada pembahasan sesuai rumusan masalah yang disusun.

B.      Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian landasan sosiologis?
2.      Bagaimana sosiologis sebagai landasan pengembangan kurikulum?
3.      Bagaimana landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum?

C.      Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan penyusun agar dapat:
1.      Memahami pengertian landasan sosiologis.
2.      Mendeskripsikan sosiologis sebagai landasan pengembangan kurikulum.
3.      Menguraikan landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum.





BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Landasan Sosiologis
Secara umum, pengertian sosiologi merupakan studi tentang masyarakat dan relasinya dengan lingkungannya, atau ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kehidupan sosial masyarakat. Sosiologi adalah studi tentang masyarakat. Beberapa uraian yang lebih detail mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang interaksi sosial masyarakat dalam kaitannya dengan struktur sosial. Deskripsi yang diungkapkan dalam definisi ini menekankan aspek interaksi sosial dan struktur sosial sebagai dimensi penting sosiologi.
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial hubungan antar individu, antar golongan, antar lembaga sosial atau masyarakat. Di dalam kehidupan sehari-hari anak selalu bergaul dengan lingkungan atau dunia sekitar.  Jadi sosiologi mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain.
Secara etimologi, landasan sosiologis pengembangan kurikulum tersusun dari empat kata, yaitu “Landasan” yang mempunyai arti alas, bantalan, dasar, dan tumpuan.“Sosiologis” mempunyai arti yang bersifat sosial kemasyarakatan dan yang bersifat pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat. Jadi dapat kita tarik definisi landasan sosiologis secara etimologi yaitu suatu landasan atau pijakkan yang mengacu pada aspek kemasyarakatan dalam menyusun sebuah kurikulum.
Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapi memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi kehidupan dalam masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.

2.      Sosiologis Sebagai Landasan Pengembangan Kurikulum
Sosiologi mempunyai empat peranan yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum. Empat peranan sosiologi tersebut adalah berperan dalam proses penyesuaian nilai-nilai dalam masyarakat, berperan dalam penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat, berperan dalam penyediaan proses sosial, dan berperan dalam memahami keunikan individu, masyarakat dan daerah. Jadi hubungan sosiologi dengan kurikulum yaitu ada peran sosiologi terhadap kurikulum itu sendiri, dengan tujuan agar siswa atau masyarakat dapat bersosialisasi lebih luas untuk mendapatkan pengaruh tekanan masyarakat terhadap pendidikan dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang beraku dalam masyarakat.
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita mengharapkan melalui pendidikan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyarakat.
Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Jika dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah proses mempersiapkan individu agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan, pendidikan adalah proses sosialisasi, dan berdasarkan pandangan antrofologi, pendidikan adalah “enkulturasi” atau pembudayaan. “Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang lain dan asing terhadap masyarakatnya, tetapi manusia yang lebih bermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik kekayaan, dan perkembangan masyarakat tersebut” (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997:58). Untuk menjadikan peserta didik agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting, karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu bekerja sama, berinteraksi, menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat dan mampu meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai mahluk yang berbudaya.
Masyarakat adalah suatu kelompok individu yang diorganisasikan mereka sendiri ke dalam kelompok-kelompok berbeda, atau suatu kelompok individu yang terorganisir yang berpikir tentang dirinya sebagai suatu yang berbeda dengan kelompok atau masyarakat lainnya. Tiap masyarakat mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri. Dengan demikian, yang membedakan masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya adalah kebudayaan. Hal ini mempunyai implikasi bahwa apa yang menjadi keyakinan pemikiran seseorang, dan reaksi seseorang terhadap lingkungannya sangat tergantung kepada kebudayaan dimana ia hidup.
Menurut Daud Yusuf (1982 : 76 ), terdapat tiga sumber nilai yang ada dalam masyarakat untuk dikembangkan melalui proses pendidikan, yaitu: logika, estetika, dan etika. Logika adalah aspek pengetahuan dan penalaran, estetika berkaitan dengan aspek emosi atau perasaan, dan etika berkaitan dengan aspek nilai. Ilmu pengetahuan dan kebudayaan adalah nilai-nilai yang bersumber pada logika (pikiran). Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada hakikatnya adalah hasil kebudayaan manusia, maka kehidupan manusia semakin luas, semakin meningkat sehingga tuntutan hidup pun semakin tinggi.
Pendidikan harus mengantisipasi tuntutan hidup ini sehingga dapat mempersiapkan anak didik untuk hidup wajar sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat. Dalam konteks inilah kurikulum sebagai program pendidikan harus dapat menjawab tantangan dan tuntutan masyarakat. Untuk dapat menjawab tuntutan tersebut bukan hanya pemenuhan dari segi isi kurikulumnya saja, melainkan juga dari segi pendekatan dan strategi pelaksanaannya. Oleh karena itu guru sebagai pembina dan pelaksana kurikulum dituntut lebih peka mengantisipasi perkembangan masyarakat, agar apa yang diberikan kepada siswa relevan dan berguna bagi kehidupan siswa di masyarakat.

3.      Landasan Sosiologis dalam Pengembangan Kurikulum
Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, landasan merupakan pijakan/tumpuan yang menjadi acuan penting dalam pengembangan kurikulum. Jika pijakan itu kuat maka kurikulum akan menjadi pedoman yang kokoh sehingga tidak akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh buruk apapun. Maka kurikulum akan menghasilkan pendidikan yang sesuai harapan dan tujuan yang diharapkan. Maka Landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum menjadi suatu landasan atau pijakan yang mengacu pada aspek kemasyarakatan dalam menyusun sebuah kurikulum. Para pengembang kurikulum harus memperhatikan setiap tuntutan dan tekanan masyarakat yang berbeda itu. Oleh sebab itu, menyerap berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat merupakan salah satu langkah penting dalam proses penyusunan suatu kurikulum. Dalam konteks inilah pengembang kurikulum perlu menjalankan peran evaluative dan peran kritisnya dalam menentukan muatan kurikulum.
Sekolah adalah institusi sosial yang didirikan dan ditujukan untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, wajar jika dalam penyusunan dan pelaksanaannya kurikulum sekolah banyak berkembang dan selalu berubah didalam masyarakat. Pengaruh tersebut berdampak pada komponen-komponen kurikulum seperti tujuan pendidikan, siswa, isi kurikulum, maupun situasi sekolah tempat kurikulum dilaksanakan.
Dalam merumuskan tujuan kurikulum harus memahami tiga sumber kurikulum yaitu siswa (student), masyarakat (society), dan konten (content). Sumber siswa lebih menekankan pada kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan siswa pada tingkat pendidikan tertentu yang sesuai dengan perkembangan jiwa atau usianya. Sumber masyarakat lebih melihat kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, sedangkan sumber konten adalah berhubungan dengan konten kurikulum yang akan dikembangkan pada tingkat pendidikan yang sesuai. Dengan kata lain landasan sosiologi digunakan dalam pengembangan kurikulum dalam merumuskan tujuan pembelajaran dengan memperhatikan sumber masyarakat (society source) agar kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespon dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global. Ada beberapa faktor yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan kurikulum dalam masyarakat (Nasution. 2004 : 148) , menyatakan :
Ø  Kebutuhan masyarakat
Kebutuhan masyarakat tak pernah tak terbatas dan beraneka ragam. Oleh karena itu lembaga pendidikan berusaha menyiapkan tenaga-tenaga terdidik yang terampil yang dapat dijadikan sebagai penggali kebutuhan masyarakat.
Ø  Perubahan dan perkembangan masyarakat
Masyarakat adalah suatu lembaga yang hidup, selalu berkembang dan berubah. Perubahan dan perkembangan nilai yang ada dalam masyarakat sering menimbulkan konflik antar generasi. Dengan diadakannya pendidikan diharapkan konflik yang terjadi antar generasi dapat teratasi.
Ø  Tri pusat pendidikan
Yang dimaksud dengan tri pusat pendidikan adalah bahwa pusat pendidikan dapat bertempat di rumah, sekolah , dan di masyarakat. Selain itu media massa, lembaga pendidikan agama, serta lingkungan fisik juga dapat berperan sebagai pusat pendidikan.

a.      Masyarakat sebagai Landasan Sosiologis
Masyarakat mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, serta pada umumnya bertemt tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka mempunyai hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dapat merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun sempit, seperti masyarakat bangsa ataupun kesatuan kelompok kekerabatan di suatu desa, dalam suatu marga. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak apabila dibandingkan dengan masyarakat dalam arti sempit. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama antara lain:
1)      Ada interaksi antara warganya.
2)      Pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan yang khas.
3)      Ada rasa identitas kuat yang mengikat pada warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial dan lain-lain.
Masyarakat sebagai salah satu lingkungan pendidikan, memiliki ciri-ciri khusus yang khas yang tercermin dalam:
a)      Nilai-nilai sosial dan kebudayaan, hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap segala sikap tingkahlaku masyarakat tersebut termasuk masalah pendidikan di lingkungan masyarakat tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari apa yang dimaksud dengan nilai-nilai sosial dan kebudayaan itu terwujud dalam norma-norma (ukuran-ukuran) dan dijadikan aturan yang dianggap baik atau tidak baik oleh masyarakat yang bersangkutan. Agar nilai-nilai sosial dan kebudayaan tersebut tidak musnah, maka masyarakat menularkan kepada generasi muda. Penularan ini terjadi dengan apa yang disebut pendidikan.
b)      Pandangan hidup/ falsafah masyarakat, kesadaran mengenai pandangan hidup bangsa, cita-cita nasional dan tanggungjawab nasional khususnya dalam bidang pendidikan ada pada tiap pribadi anggota masyarakat.
c)      Pengaruh/ keadaan ilmu pengetahuan teknologi dalam masyarakat, pendidikan harus dapat mengikuti perkembangan masyarakat dan perkembangan masyarakat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b.      Peran dan Fungsi sekolah dalam Masyarakat
Sekolah sebagai lembaga pendidikan sosial, bisa disebut juga sebagai satu organisasi yaitu terikat kepada tata aturan formal, berprogram dan bertarget atau bersasaran yang jelas, serta memiliki struktur kepemimpinan dalam penyelenggaraan yang resmi. Pada akhirnya, fungsi sekolah terikat kepada sasaran yang dibutuhkan oleh masyarakat itu sendiri. Di sekolah diajarkan tentang nilai-nilai dan norma-norma di masyarakat yang lebih luas. Tidak hanya itu saja, di dalam sekolah individu dilatih untuk mempraktikkan hal-hal yang telah ia pelajari di sekolah dan keluarga. Berikut ini akan diuraikan lebih detail tentang peran sekolah dan fungsi sekolah.
Peran sekolah sebagai lembaga untuk mendidik, memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang sudah dimiliki sebelumnya dan mempersiapkan anak didik di dalam kehidupannya.
Fungsi sekolah selain meneruskan pembinaan yang telah dilakukan oleh keluarga, juga mengembangkan potensi anak. Lebih detail tentang fungsi sekolah dipaparkan sebagai berikut:
1)      Mengembangkan kecerdasan otak dan memberikan pengetahuan.
Sekolah bertugas untuk mengembangkan pribadi anak didik secara menyeluruh. Fungsi sekolah yang lebih penting sebenarnya adalah menyampaikan pengetahuan dan melaksanakan pendidikan yang cerdas.
2)      Spesialisasi
Spesialisasi sebagai konsekuensi makin meningkatnya kemajuan masyarakat ialah maki bertambahnya diferensiasi sosial yang melaksanakan tugas tersebut. Sekolah sebagai lembaga sosial yang spesialisasinya dalam bidang pendidikan dan pengajaran
3)      Efisiensi
Efisiensi pendidikan dilakukan dalam program yang tertentu dan sistematis, juga jumlah anak didik dalam jumlah besar akan memberikan efisiensi bagi pendidikan anak dan juga bagi orang tua
4)      Sosialisasi
Sekolah sebagai proses untuk membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial, makhluk yang dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat. Proses sosialisasi di dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik, merupakan fungsi yang cukup penting karena tugas pendidikan sekolah adalah mensosialisasikan pentingnya persatuan melalui beberapa macam mata pelajaran.
5)      Konservasi dan transmisi kultural
Fungsi sekolah adalah memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat dengan jalan menyampaikan warisan kebudayaan (transmisi kultural) kepada generasi muda. Sekolah sebagai transmisi pengetahuan dan keterampilan dan transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma.



  
BAB III
KESIMPULAN

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapi memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Anak-anak berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan bagi kehidupan dalam masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya, menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, landasan merupakan pijakan/tumpuan yang menjadi acuan penting dalam pengembangan kurikulum. Jika pijakan itu kuat maka kurikulum akan menjadi pedoman yang kokoh sehingga tidak akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh buruk apapun. Maka kurikulum akan menghasilkan pendidikan yang sesuai harapan dan tujuan yang diharapkan. Maka Landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum menjadi suatu landasan atau pijakan yang mengacu pada aspek kemasyarakatan dalam menyusun sebuah kurikulum.
Masyarakat sebagai Landasan Sosiologis, sehingga masyarakat sebagai salah satu lingkungan pendidikan dengan memiliki ciri-ciri khusus yang khas yang tercermin dalam: 1) Nilai-nilai sosial dan kebudayaan, 2) Pandangan hidup/ falsafah masyarakat, dan 3) Pengaruh/ keadaan ilmu pengetahuan teknologi dalam masyarakat.
Peran sekolah sebagai lembaga untuk mendidik, memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang sudah dimiliki sebelumnya dan mempersiapkan anak didik di dalam kehidupannya. Fungsi sekolah selain meneruskan pembinaan yang telah dilakukan oleh keluarga, juga mengembangkan potensi anak, mengembangkan individu sebagai makhluk sosial, dan memelihara warisan budaya dengan menyampaikan dan menanamkan kebudayaan kepada generasi muda.





DAFTAR PUSTAKA

Made pidarta.2014.Landasan Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta
Zainal Aripin, M.pd. 2011,Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya





Minggu, 04 Maret 2012

Evaluasi


Ralph W. Tyler, mengemukakan bahwa proses evaluasi merupakan proses yang sangat esensial, guna memenuhi apakah tujuan (objektifitas) secara nyata telah terealisasikan. Sedangkan, Hilda Taba, berpendapat bahwa evaluasi adalah tingkatan dimana siswa mencapai tujuan.
Evaluasi merupakan umpan balik mengenai keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Dengan kata lain, evaluasi dapat diartikan sebagai tindakan menelaah hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Disamping itu, evaluasi juga berguna untuk mempertinggi hasil pelajaran, karena erat kaitanya dengan proses belajar mengajar.
Evaluasi bertujuan untuk memperoleh umpan balik mengenai keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Jika, hasil evaluasi menunjukan bahwa siswa belum menguasai materi pelajaran, maka kita tidak dapat melanjutkan materi selanjutnya tetapi kita harus mengulang proses belajar mengajar mengenai materi yang sama. Sebaliknya, apabila hasil evaluasi menunjukan bahwa siswa telah menguasi materi pelajaran, kita dapat langsung melanjutkan materi selanjutnya.
Ada beberapa jenis penilaian yang dapat dilaksanakan, dalam kegiatan proses belajar mengajar. Dilihat dari fungsinya penilaian dibedakan menjadi 5 jenis, yaitu:
1.        Evaluasi formatif, evaluasi ini dilaksanakan setelah siswa mengikuti suatu program pengajaran, misalnya satu pokok bahasan.
2.        Evaluasi sumatif, dilaksanakan pada akhir unit program, misalnya setelah beberapa pokok bahasan.
3.        Evaluasi penempatan, dilakukan untuk mengetahui kemampuan prasyarat yang dimiliki siswa sebelum memulai atau melanjutkan pada program pengajaran tertentu.
4.        Evaluasi diagnostik, dilakukan terhadap hasil belajar siswa untuk mendapatkan data mengenai kelamahan, kekurangan atau kesulitan yang dihadapi siswa dalam proses belajar mengajar.
5.        Evaluasi selektif, penilaian ini bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya tes atau ujian saringan masuk sekolah.
Dilihat dari segi alat, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes. Tes bisa terdiri atas tes lisan, tes tulisan, dan tes perbuatan. Tes juga terbagi dua jenis, yaitu:
1.        Tes Uraian atau Esai, terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian berstruktur.
2.        Tes Objektif, terdiri dari beberapa bentuk yaitu: bentuk pilihan benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, dan bentuk isian pendek atau melengkapi.
Dilihat dari tekhnik penilaian, penilaian dapat dilakukan dengan tertulis (paper and pen), penugasan (project), hasil kerja (product), unjuk kerja (performance), portofolio, sikap, dan penilaian diri.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar dalam bentuk: ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

Media Pembelajaran


Media pembelajaran tidak kalah pentingnya dalam keberhasilan pembelajaran. media merupakan alat bantu pembelajaran, yang dapat mempermudah pembelajaran. Dengan menggunakan alat/media akan mempercepat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Dalam proses pembelajaran, media dapat diartikan sebagai berikut:
1.        Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm, 1977).
2.        Sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya (Briggs, 1977).
3.        Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang dengar, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).
Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses mental pada diri siswa dalam proses pembelajaran. Dimana telah terjadinya komunikasi antara siswa dengan media, atau secara tidak langsung antara siswa dengan penyalur pesan (guru). Dengan kata lain, proses belajar dengan media akan terjadi apabila ada komunikasi antara penerima pesan (siswa) dengan  penyalur pesan (guru). Media tersebut berhasil menyalurkan bahan ajar, apabila telah terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa.
Media pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam:
1.        Media Visual
Media visual adalah media yang dapat dilihat dengan menggunakan indera penglihatan. Media visual terdiri atas media visual yang dapat diproyeksikan, dan media visual yang tidak dapat diproyeksikan.
2.        Media Audio
Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar saja). Seperti: program kaset, dan radio.
3.        Media Audio Visual
Media audio visual merupakan kombinasi media audio dan media visual, atau bisa disebut media pandang dengar. Seperti: video, televise, dan slide show.
Guru dapat lebih mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran melalui penggunaan media secara optimal. Sebab media memiliki fungsi, nilai, dan peranan yang sangat menguntungkan, terutama mengurangi terjadinya salah penafsiran terhadap bahan ajar yang disampaikan. Namun, setiap media memiliki karakteristik (kelebihan dan kekurangan). Oleh karena itu, tidak ada media yang dapat digunakan untuk semua situasi atau tujuan pembelajaran. Jadi, kita harus dapat menentukan/memilih media yang tepat dengan dikaitkan dengan tujuan pembelajaran, sifat-sifat bahan media, strategi pembelajaran, dan situasi evaluasinya.

Model Pembelajaran

Model pembelajaran digunakan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam  proses pembelajaran. Dimana model pembelajaran merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang didasarkan pada pengalaman, yang memungkinkan siswa belajar bagaimana caranya belajar (learning how to learn). Sehingga pembelajaran berpusat pada siswa dan keaktifan siswa, dan guru berperan sebagai fasilitator/mediator dan motivator siswa dalam proses belajar.
Menurut Olivia (1992:413), “models of teaching are strategis based on theories (and often the research) of educators, psychologist, philosophers, and others who question how individual learn”. Hal ini berarti setiap model mengajar atau pembelajaran harus mengandung suatu rasional yang didasarkan pada suatu teori, berisi serangkaian langkah yang strategi yang dilakukan guru maupun siswa, didukung dengan sistem  penunjang atau fasilitas pembelajaran, dan metode untuk mengevaluasi kemajuan belajar siswa.
Sedangkan Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran.
Model pembelajaran yang digunakan dalam pengalaman belajar siswa, diharapkan akan terjadinya aktivitas belajar siswa yang tinggi pada keterampilan proses. Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi dalam diri siswa (Depdikbud 1990:9).
Banyak model pembelajaran yang dikemukakan para ahli, seperti: model examples non-examples, numbered heads together, jigsaw, make a match, role playing, reading guide, dan sebagainya. Salah satu model Reading Guide merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk materi yang membutuhkan waktu banyak yang tidak mungkin di jelaskan semuanya dalam kelas. Untuk mengefektifkan waktu, maka siswa di beri tugas membaca dan menjawab pertanyaan atau kisi- kisi untuk dikerjakan siswa, karena dalam penggunaan strategi tersebut siswa juga ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran.
            Langkah-langkah model reading guide sebagai berikut:
  1. Tentukan bacaan yang akan dipelajari
  2. Buat pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab atau kisi-kisi untuk mengerjakan permasalahan berdasarkan bacaan yang telah ditentukan.
  3. Bagikan bahan bacaan dengan pertanyaan atau kisi-kisi yang telah disiapkan kepada para peserta didik.
  4. Tugas para peserta didik, mempelajari bacaan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memecahkan permasalahan berdasarkan kisi-kisi yang ada. Kegiatan menjawab pertanyaan atau kisi-kisi bisa secara individual, atau kelompok. Batasi aktivitas para peserta didik, sehingga tidak memakan waktu yang berlebihan.
  5. Bahaslah bersama contoh jawaban atau pekerjaan dari peserta didik. Berikan ulasan dan kesimpulan.

Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran mempunyai nilai strategis, karena metode merupakan alat atau fasilitas untuk menghantarkan bahan pelajaran mencapai tujuan. Oleh karena itu, bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan metode pembelajaran justru akan mempersulit guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. 
Hasil belajar siswa atau prestasi belajar siswa akan diperoleh setelah siswa menempuh proses atau pengalaman pembelajarannya. Pengalaman belajar merupakan suatu proses kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh alternatif metode yang digunakan guru.
Wina Senjaya (2008), mengemukakan bahwa metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata, dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan, brainstorming, debat, symposium, dan sebagainya.
Dyah Rahayu Widiarni, dalam makalah Perencanaan Sistem Pengajaran mengemukakan 31 metode pembelajaran sebagai berikut: kerja kelompok, penemuan (discovery), unit teaching, micro teaching, inquiry, penampilan, diskusi, ceramah, demonstrasi, tanya jawab, studi mandiri, pembelajaran terprogram, tugas dan resitasi, latihan, latihan bersama teman, simulasi, pemecahan masalah, studi kasus, insiden, praktikum, proyek, bermain berperan, seminar, symposium, sosiodrama, tutorial, deduktif, induktif, karyawisata, eksperimen, dan bercerita.
Penggunaan metode pembelajaran, ditinjau dari segi prosesnya memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:
  • 1.       Sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan pembelajaran atau membentuk kompetensi siswa.
  • 2.       Sebagai gambaran aktivitas yang harus ditempuh oleh siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran.
  • 3.       Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan alat penilaian pembelajaran.
  • 4.       Sebagai bahan petimbangan untuk menentukan bimbingan dalam kegiatan pembelajaran.

Sedangkan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode pembelajaran, yaitu:
  • 1.        Tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa.
  • 2.        Karakteristik bahan/materi pembelajaran.
  • 3.        Waktu yang digunakan.
  • 4.        Faktor siswa.
  • 5.        Fasilitas, media, dan sumber belajar.


            Metode pembelajaran yang kita gunakan dalam kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan keperluan dan situasi yang sedang berlangsung, guru dapat menggunakan metode mengajar secara bervariasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya. Pemilihan metode pembelajaran harus mempertimbangkan pengembangan kemampuan siswa, tujuan pembelajaran, materi pelajaran, dan waktu yang tersedia.