Kesibukan keseharian terkadang melengahkan banyak hal, baik yang kita sadari maupun tidak kita sadari. Baik kegiatan yang positif maupun kegiatan yang mungkin sangat merugikan kita. Manusia-manusia tanpa kepribadian muncul, tumbuh dan berkembang menjadi roda-roda untuk memburu farta morgana duniawi.
Ya, manusia terlena bahkan terlelap khilap dan tersesat oleh kebahagiaan fana sesaat. Manusia sudah tersesat dan terlena kebahagiaan sesaat tersebut, sehingga lupa atau bahkan melupakan Maha Pencipta "Allah SWT." dan sombong, angkuh atas kehidupannya.
Dalam masa seperti ini, patutkah kita ikut terlena? Melepaskan ketinggian derajat seorang manusia tidak cukup satu kata itu kita termasuk orang yang lepas dari keterlenaan? Cukupkah seorang berkata "Saya Beriman?". Jadikan shalat, sabar, dan beramal saleh sebagai pedoman dan penolong kita.
Saudaraku, ku untai kalimat ini bukan untuk menggurui, bukan pula wujud kesombongan atau kesempurnaan diri dengan penuh ikhlas kusampaikan catatan ini sebagai pengingat bagi kita semua.
Ya, kita insan yang terlena.
Catatan: 19 November 1999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar